WHYNEWS

Menyajikan Berita dan informasi yang dapat menambahh wawasan dan pengetahuan

WHYNWEWS

Menyajikan Berita dan informasi yang dapat menambahh wawasan dan pengetahuan

WHYNEWS

Menyajikan Berita dan informasi yang dapat menambahh wawasan dan pengetahuan

WHYNEWS

Menyajikan Berita dan informasi yang dapat menambahh wawasan dan pengetahuan

WHYNEWS

Menyajikan Berita dan informasi yang dapat menambahh wawasan dan pengetahuan.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2016

Kupanggil Dia "Pesek"




SEDERHANA, mungkin kata itu yang tepat menjadi jawaban pertanyaan, atas alasan saya selalu merasa nyaman bersama dengan dia. Karena soal fisik, saya harus jujur banyak kurangnya. Soal materi, mungkin bukan juga, karena saya belum pernah tahu latar belakang keluarganya, apalagi soal harta yang dimilikinya. Soal Tahta? apalagi. Saya kenal dia bukan siapa-siapa.

Yang pasti, saat bersama si "Pesek" ada rasa nyaman yang lehir secara alamiah dari dalam hati ini. Tak harus dalam suasana yang mewah, apalagi suasana glamour layaknya pacaran ala barat. Cukup bersama dengan dia, dimanapun dan kapanpun, rasa nyaman itu p;asti hadir.

Ya, kupanggil dia dengan sebutan Pesek. Panggilan itu kulekatkan kepadanya, karena hidungnya yang cukup minimalis. Saya memaknai Pesek itu bukan dalam bentuk hinaan. Tetapi saya menyadari betul bahwa mancung itu hanya baik kelihatan diwajah yang tepat. Karena saya sadar betul, tidak semua orang dengan hidung mancung itu kelihatan cantik dan tampan.

Yang kedua, dengan sebutan Pesek itu, saya mau menyampaikan pesan yang cukup sederhana, bahwa aku mengaguminya bukan karena kelebihannya, bukan karena kecantikannya. Tetapi, yang pasti aku Kagum, suka dan cinta dia, karena kenyamanan hati yang saya percaya tidak akan pernah ternilai harganya meskipun sangat bernilai.

Kupanggil Dia Pesek, meskipun saya aku tahu betul nama lengkapnya begitu Indah, Nurifani Hairunnisa. Sangat memungkinkan iua dipanggil Nur yang berarti Cahaya, Ani yang dimaknai dengan kebaikan, kesabaran, keanggunan, dan keteguhan hati. Atau dia bahkan bisa Hairunnisa atau Nisa yang berarti perempuan yang baik. Tetapi sekali lagi, ini soal sebutan yang sarat akan pesan untuk menjaga keberlangsungan hubungan baik ini.

Dia, Si Pesek, sangat jauh dari kesempurnaan. Bahwa sejak saya mengenal dia, saya juga perlahan mencoba mengenali dari sisi luar dan dalam perempuan yang satu ini. Dari penelitian sederhana dan referensi yang saya dapatkan dari berbagai sumber tentang Pesek, ternyata banyak hal yang memang membuatnya jauh dari kata sempurna.

Bahkan saya secara pribadi, juga pernah merasakan sakit atas perilaku dia. Tetapi, saya paham betul apa yang menyebabkan dia se tega itu bertindak mencabik-cabik perasaan ini. Hanya saja, rasa sakit atas tindakannya itu tak berlangsung lama. Karena lagi-lagi saya meyakini, bahwa Pesek ini adalah perempuan yang sederhana dan dapat membuat saya nyaman untuk waktu yang lama. Rasa sakit yang pernah saya alami atas kekhilafannya itu, adalah efek dari keterlambatan saya bertemu dan mengenalnya lebih dekat.

Rasa sakit yang pernah saya alami itu terjadi pada 2015 silam. Setelah itu Pesek menghilang sekitar setahun lamanya. Sebelum akhirnya saya bertemu kembali dan mencoba untuk mengulang kisah yang lalu. Tepat pada akhir 2016 saya kembali bertemu dan mencoba melanjutkan perjuangan untuk memenangkan hatinya. Saya berusaha meyakinkan dia bahwa saya hadir lagi untuk kembali membuktikan kesungguhan rasa sebagai ungkapan syukur dan terima kasih atas kenyamanan yang selama ini saya rasakan saat bersama pesek.

Dan benar saja, saat kembali berkomunikasi dan bertemu rasa nyaman itu hadir lagi secara spontanitas. Akhir tahun 2016 tepatnya 30 Desember saya kembali mengungkapkan bahwa rasa nyaman itu hadir lagi. Saya mencoba meyakinkan bahwa kebahagiaan itu akan lahir melalui kebersamaanku dengannya. Awal tahun 2017 tepatnya pada momentum malam pergantian tahun saya dan pesek kembali menghabiskan waktu bersama menyambut tahun 2017.

Saya sangat bersyukur, karena dalam kurun waktu sekian jam bersama melewati detik-detik pergantian tahun, ia mulai merasakan kenyamanan itu. Rasa senang dan bahagia pun menghampiri saya seketika membaca status di Blackberry Messenger miliknya. "The best year, thankyou for today," demikian dia menulis status itu, yang saya sangat yakin itu ditujukan kepadaku (Narsis yaa). Rasa bahagia kembali hadir saat membaca pesan BBM darinya.

"Pokoknya tidak adami kalah i tutup tahun dan awal tahun kali ini," ucapnya dalam pesan itu.

Pesek... Saya hanya mau bilang semailah terus rasa nyaman itu. Jangan biarkan kenyamanan hati ini terkikis sedikitpun. Kita telah mengawali semuanya dengan cukup baik. Mengawali tahun 2017 bersama dengan kenyamanan. Yakinkanlah diri kita bahwa kita akan terus menjaga dan merawat rasa ini hingga waktunya tiba. Hingga kita benar-benar sah dalam sebuah ikatan setelah ijab kabul itu terucap dihadapan para saksi dan Wali mu.

Tetaplah menjadi sosok yang senantiasa menghadirkan rasa nyaman dihati ini. Teruslah menatap kedepan dan wujudkan harapan  terbaik kita. Jika kemarin telah gagal maka esok kesuksesan harus membayar kegagalan yang pernah ada. Mari buktikan. (*)
Share:

Awal yang Indah, Harus Lebih Baik


TAHUN 2016 telah berlalu. Detik-detik awal tahun ayam api 2017 pun kini mulai kulalui. Tak seperti biasanya, mungkin hanya kali ini saya mengawali tahun masehi dengan cukup sederhana.

Jika pernah saya melalui pergantian tahun masehi di luar daerah, maka kali ini saya hanya berada di Tana Luwu saja, di Tanah Kelahiran, meskipun sangat memungkinkan bagi saya untuk berada di tempat lain. Tak ada pesta, tak ikut dalam aksi konvoi dan menyaksikan pesta kembang api. Apalagi yang namanya alkohol yang entah kenapa identik dengan penyambutan awal tahun masehi. Bukan hanya itu, mungkin baru kali ini penutupan tahun dan penyambutan tahun baru saya lalui dengan status single atau jomblo. Tidak sedang dalam status berpacaran dengan siapapun.

Meski demikian, bukan berarti pada detik-detik pergantian tahun saya dalam kondisi yang tidak senang dan bahagia atau yang kerap disebut dengan galau. Justeru dengan kondisi itu, saya merasa sangat berbahagia dan sangat bersyukur. Karena kondisi itu, saya bisa memastikan jika diri saya dalam mengawali tahun 2017 sedikit lebih baik dari tahun sebelumnya. Tanpa menyentuh alkohol, tanpa menghambur-hamburkan uang yang memang saya tidak punya lebih, dan yang pasti saya mengawali tahun ini tanpa perbuatan kemaksiatan.

Meskipun diawal tahun, ini sebenarnya saya sedang dekat dengan seseorang yang juga sangat berbeda dengan kebanyakan perempuan lainnya. Saya bersama perempuan berinisial NH ini melewati pergantian tahun ini dengan sangat sederhana, Hanya kumpul bersama beberapa orang dan bercerita seperti hari-hari biasa. Tetapi karena kondisi hati yang begitu nyaman dengan keberadaannya, sehingga suasana terasa lebih special dan begitu indah. (Terima Kasih NH). Meski bersama dia yang membuat hati saya selalu nyaman(bukan pacar) tetapi kami tidak melakukan tindakan diluar kewajaran, karena memang kami tidak ada ikatan apapun, dan kami yakin rasa nyaman itu lahir bukan karena dorongan negatif.

Menghindari perbuatan dan tindakan negatif diawal tahun 2017 memang sudah niat yang tulus dalam hati. Karena saya merasa ada hal yang belum maksimal bagi saya dalam menjalani proses kehidupan belakangan ini. Padahal disetiap pergantian tahun harapan saya selalu sama, bahwa ditahun mendatang saya harus lebih baik dalam melalui proses kehidupan dan tentunya sangat berharap dapat mewujudkan apa yang selama iniu menjadi cita-cita saya, dan harapan terbaik dari orang-orang yang ada disekitar saya, khususnya keluarga.

Sehingga karena itulah, saya sadar bahwa ternyata salah satu penyebab saya tidak maksimal dalam pencapaian disetiap tahun-tahun berlalu, karena harapan dan niatan di awal tahun tidak berbanding lurus dengan perilaku dan tindakan saya dalam keseharian, terkhusus pada detik-detik awal tahun baru masehi. Harapan yang terucap dari bibir dan tertulis dalam berbagai Medsos ternyata hanya sebatas harapa saja, yang mungkin saya harus sedari bahwa itu hanya mengikuti trend di Medsos.

Berharap hidup lebih baik di tahun-tahun mendatang, tetapi dalam proses penyambutan tahun baru atau dalam mengawali tahun yang baru ternyata dihiasi  dengan tindakan dan perilaku yang negatif, dan sangat tidak bermanfaat, bahkan bertolak belakang serta tidak sejalan dengan apa yang dicita-citakan, yakni kehidupan yang lebih baik.

Saya sadar betul, bahwa untuk menjalani proses kehidupan yang lebih baik, maka yang terpenting adalah bagaimana memulainya dengan tindakan yang positif. Jika ingin kehidupan di tahun 2017 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, maka perilaku dalam penyambutan tahun baru dan detik-detik awal tahun baru harus baik dulu. Jangan awali tahun dengan kebiasaan pesta dengan minuman keras. Mengawali tahun dengan perbuatan maksiat. Hura-hura menghamburkan uang dengan membakar kembang api. Ugal-ugalan dalam berkendara dan banyak hal tradisi negatif dalam proses pergantian tahun.

Jika tak sempat melaksanakan Dzikir dan Do'a bersama dengan keluarga, maka minimal tidak melakukan tindakan yang sudah jelas beresiko pada nilai-nilai kebaikan kita. Memang tidak mudah untuk menjadi manusia yang 100 persen baik, tetapi minimal yang menjadi orang yang buruk. Teruslah berproses mendekati kesempurnaan, berupaya menjadi orang yang lebih baik dan senantiasa berusaha dengan tekad dan kesungguhan bahwa tidak boleh lagi ada kekeliruan, kesalahan dan tindakan mengikis nilai-nilai kebaikan yang kita lakukan.

Niatkan dalam hati, bahwa kita harus lebih baik dimasa mendatang. Awali 2017 dengan keindahan, sehingga kedepan kita kita lebih baik dalam menjalani proses kehidupan. Semoga benar-benar hidup kita lebih baik di Tahun 2017. 

Terima Kasih Tahun 2016 yang telah memberikan banyak pelajaran. Terima kasih atas satu tahun yang berkesan nan penuh makna, Sekali lagi Terima Kasih !!! (*)

Share:

Rabu, 21 Desember 2016

"Om Telolet Om" ; Teriakan Anak Indonesia Jadi Perhatian Duni


"Om Telolet Om". Sebuah kalimat yang bernada permohonan yang dilontarkan oleh sekelompok anak kecil itu, kini menjadi trending topik. Aksi anak-anak indonesia ini kemudian mampu menarik perhatian dunia.

Bahkan, bukan hanya dari kalangan anak-anak saja, sebagaimana mereka yang memulai membuat tenar istilah ini. Tetapi tokoh-tokoh dunia dari berbagai latar belakang juga terjangkit virus "om telolet om' ini. Mulai dari selebriti mancanegara, atlet sepak bola dunia sekelas Messi dan dan Ronaldo, hingga pebalap sekelas Marc Marques. Bahkan seorang presiden yang berkuasa di negara adidaya Amerika Serikat, Donal Trump, juga terjangkit fenomena "Om Telolet Om".

Nah, tokoh kelas dunia saja, ikut hanyut dalam fenomena yang awalnya hanya sebagai hobi atau kesenangan seumlah bocah di Pulau Jawa mendengarkan klakson bernada telolet itu. Bagaimana dengan tokoh-tokoh nasional, regional dan tingkatan lokal Luwu Raya? Tentunya Fenomena ini juga membuat mereka terjerembab. Menteri perhubungan misalnya juga ikut membahasa soal telolet, meskipun dari perpektif lain. Di Luwu Raya, foto Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, bahkan sudah tersebar di medsos dengan memegang sebuah kertas yang bertuliskan "bu Telolet bu". Foto Bupati berparas cantik itu diambil tepat di halaman rumah jabatan Bupati Luwu Utara.

Tidak banyak yang mengetahui pasti asal muasal dan sejarah munculnya ide tentang "Om Telolet" itu. Namun dari berbagai sumber yang ditemukan Redaksi Radar Luwu Raya menyebutkan, bahwa aksi "om telolet om" awalnya hanya sebuah hobi mendengarkan klakson dengan variasi bunyi yang dianggap menarik. Akhirnya sekumpulan anak di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur mencoba merekam setiap bus dan mobil truk yang menggunakan klakson variasi seperti bunyi telolet, saat melintas. Dari hasil rekaman itu kemudian digabungkan antara bunyi dan bus yang satu dengan busa lainnya.

Setelah digabungkan, para bocah penikmat klakson telolet itu kemudian mengunggah setiap video hasil kreasinya itu ke Youtube. Disinilah ihwal "Om Telolet Om" itu menjadi trending topik. Meskipun sejak enam tahun lalu aktivitas seperti itu sudah mulai dilakukan oleh anak-anak di Jawa Timur dan berbagai Kota lainnya di Pulau Jawa. Hanya Saja, wabahnya baru kemudian merembes kemana-mana hingga ke seluruh dunia setelah video Kreasi anak-anak negeri itu ditonton dan dibagikan oleh tokoh-tokoh dunia. Termasuk saat sejumlah DJ papan atas dunia memasukkan kata Telolet kedalam setiap aransemen musik DJ mereka.

Sebutan telolet sendiri berasal dari suara klakson bus yang diburu oleh orang terutama remaja dan anak-anak. Suara klakson telolet dari bus memang fenomenal dan memancing anak-anak di berbagai daerah untuk mengabadikan. Bunyi yang seakan menyebut kata “telolet” sendiri tak lain adalah bunyi klakson bus antar-kota. Anak-anak meminta om sopir bus mengeluarkan bunyi “telolet” ketika melintas. Maka dari itu, ujung-ujungnya fenomena ini disebut “om telolet om”, mencontohkan permintaan anak-anak ke om sopir.

Fenomena “’om telolet om’ ini merupakan seruan dari sejumlah orang ketika ada bus besar lewat. Bunyi klakson yang nyaring dan khas mungkin bisa dikatakan alasan utama ‘demam’ ini muncul. Sekedar jadi hiburan, suara tersebut terlihat sukses membuat gelak tawa hadir, terutama bagi anak-anak.

Awalnya dalam sederet video, terlihat hanya anak-anak saja yang berburu klaskon telolet tersebut. Namun seiring bertambah kepopulerannya, tak jarang orang dewasa pun melakukan hal yang sama. Pengunggah video “om telolet om” hendak menyampaikan bahwa kebahagiaan bisa muncul dari hal-hal sederhana. Lama-kelamaan, banyak versi video “om telolet om” yang muncul dan jadi guyonan. Tak cuma “om telolet om” dari bus antar-kota, ada juga dari penjual es krim yang tak kalah menggelitik. Beberapa orang pun membuatkan video “om telolet om” versi pesawat.

Bahkan, sang selebgram, Ria Ricis rela membuat video khusus tentang fenomena “Om Telolet Om” ini. Ria dibantu rekannya membuat Telolet Om Challenge. Dalam video berdurasi 3,12 menit itu, Ria rela berada di tepi jalan dan menunggu berlama-lama untuk mendapatkan bunyi “telolet” dari bus besar yang melintas. Setelah menunggu lama, akhirnya adik dari artis Oki Setiana Dewi ini mendapatkan cita-cita yang diinginkan, mendengarkan bunyi telolet dari klakson bus.

Rona bahagia pun muncul dari wajah Ricis. Disitu ada “om telolet” om, disitu kami bahagia. Bahkan fenomena Om Telolet Om juga menjadi pembahasan dan sorotan di beberapa media luar negeri. Seperti artikel yang ditulis Billboard.com. Laman tersebut menulis banyaknya musisi dunia yang memperbincangkan Om Telolet Om.

"Dance Music World Completely Confounded By Trending Indonesian Meme 'Om Telolet Om'," tulis laman Billboard.com, Rabu (21/12). Dalam pembahasan itu terdapat beberapa cuitan musisi dunia soal Om Telolet Om. Seperti yang diungkapkan DJ Snake, Martin Garrix, Marshmello, dan lainnya.(*)
Share:

Jumat, 28 Oktober 2016

Curhat Aris, 7 Tahun Pacaran Ditinggal Nikah !


APA perasaan kalian jika sudah berpacaran selama 7 tahun namun akhirnya harus merelakan sang kekasih menikah dengan orang lain? Miris pastinya.

Ya, inilah yang dirasakan oleh seorang pria bernama Aris Prasetyo. Setelah menjalin kasih selama 7 tahun dengan kekasihnya, Ain Azharina, tapi akhirnya harus merelakannya menikah dengan pria lain. 
Dirinya pun tak kuasa menyimpan kisahnya sendiri dan kemudian mencurahkannya lewat akun facebook pribadinya. Cerita Aris lantas jadi viral di media sosial karena dianggap menyentuh hati. 

apa lah yg tersisa...kini tinggal lah kenangan...sudikah kau mengijinkanku mengenang awal kisah 7 tahun kita...

saat awal kita berjumpa, ya di bus "Santoso" yg sesak di tahun 2008...kita saling pandang, aku berusaha mencari celah di jas almamatermu, yap karena di situ tersembunyi namamu, "Ain 
Azharina", dan dalam hati pun aku yakin kau menyebut namaku, "Aris Prasetyo"..

Perkenalan singkat tapi membuat semakin akrab, sampai suatu malam hari di 16 November 2008 aku memberanikan diri mencari rumahmu, ku utarakan semua rasa.. rasa yang akan kau sambut.. rasa yang akan bertahan 7 tahun lebih...

rasa yang kita harapkan akan abadi...
kisah yang kita harapkan "never ending"..
hingga 1 tahun kita jalani, ada hal yang "mereka" tak sukai dari aku... entah itu apa, aku pun tak tahu..
bertahun-tahun kita backstreet, sampai di usia kematangan kita...

mungkin kesalahanku menunda-nunda...tapi di lebaran tahun kemaren, aku sekeluarga sudah siap... jawaban "mereka" langsung nikah saja..tapi hal berbeda diinginkan orang tuaku, lamaran dulu. kita pun gagal... aku pun mulai berubah pikiran, untuk apa kalau tak ada restu..untuk apa kita?

kegagalan itu membuat aku break dari kuliah yang sedang ku jalani.. aku mulai menghindar darimu, sedang kau mati-matian mempertahankanku... hal yang tak ku sadari, berbulan-bulan kita saling diam, dan saat lebaran kali ini ku coba memulai kembali, semua sudah berbeda...

kasih tulusmu hilang dilenyap bumi..ghaib seperti sihir.. aku klabakan, kau yang tulus kini berubah...apa kau terlalu lama menunggu?

atau... ya ada orang lain yg mengambilmu... aku heran, kenapa secepat ini...kenapa kau begitu langsung membeciku..aku bertanya, sihir apa Tuhan?

"aku sudah tak mau hidup denganmu", begitu kata telak yang kau ucapkan di hadapan waliku dan orang tuamu... tega, sebesar salah apa aku? sehina apa aku, orang yang sudah kental kau kenal...

Untuk Ain Azharina, maaf kisah ini aku posting karena aku sudah tidak tahu lagi mengeluh kepada (manusia) siapa?
Untuk Ain Azharina, aku sudah ikhlas lahir bathin kau mau dengan yang lain..

Untuk Ain Azharina, terima kasih..kau sangat berpengaruh dari hidupku..
Untuk Ain Azharina, akan ku kenang semua kisah di antara kita..

Untuk Ain Azharina, sama seperti yg dulu kau ucapkan "aku tak punya alasan kenapa aku jatuh cinta padamu" aku juga tak pernah punya alasan kenapa aku tak bisa membencimu meskipun seribu alasan kebencian kau tumpahkan kepadaku...

Untuk Ain Azharina, semoga berbahagia dengan laki-laki pilihanmu dan pilihan "mereka"..

Untuk Tuhan, terima kasih sudah sempat mempertemukan ku dengan wanita terhebat setelah Ibu ku..
Untukku sendiri, biar aku saja yang mengenangmu...

Aris juga mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk mantan kekasih yang masih sangat dicintainya tersebut. 

Selamat menempuh hidup baru Ain Azharina..semoga bahagia dg pilihanmu dan pilihan kedua orang tuamu..terima kasih atas waktu yg hebat selama 7 tahun lebih..yang ada adalah do'a ku semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah... aku ikhlas, ternyata kau duluan yg menyempurnakan separuh agamamu..tak kira dulu, kita akan bersama..tapi sudah lah, aku ikhlas lahir-batin.. sekali lagi, semoga kamu berbahagia...maaf jika 7 tahun ini aku banyak salah... :-)

Postingan Aris ini pun sudah dibagikan sebanyak lebih dari 1.700 kali dan dibanjiri ratusan komentar dari para netizen. (*)

(sumber: Facebook Aris Prasetyo)
Share:

Sekali itu dengan Pak Dahlan



SAYA salah satu anak yang boleh dibilang beruntung, pernah duduk tepat dibelakang Dahlan Iskan. Terlepas dari apa yang menjerat dirinya. Bagi saya, dia orang yang simpel.

Simpel bukan karena kemeja putih atau sepatunya. Bukan juga karena dia seorang pemimpin media besar dengan tulisannya yang mudah dicerna.

Saya tepat dibelakang Pak Dahlan Iskan ketika itu dalam sebuah rapat. Memang sekali lagi saya sangat beruntung, sebab bisa mendengar langsung kebijakan beliau di tengah salah satu grup di perusahaannya dilanda kegusaran akibat pesaing.

Pak Dahlan Datang terlambat. Jakarta ketika itu baru saja selesai hujan lebat, macet tak usah digambarkan. Dia datang dengan sepeda motor tambangan atau ojek.

Masuk ke ruang rapat tanpa ajudan, dan pakaiannya sedikit basah. Dia tak pakai kemeja putih, tapi kemeja lengan pendek cokelat tebal. Sepatunya seperti biasa dengan celana hitam.

Simpelnya dimana? Yah di kebijakannya. Apa? Tunggu dulu sampai saya puas bercerita.
Kembali ke satu jam sebelum kedatangan Pak Dahlan Iskan. Ada suasana rapat tanpa arah. Lain tema lain solusi. Kebanyakan hanya melihat dari sisi data, bukan pada manuver lawan.

Pak Dahlan masuk ke ruangan. Semua orang berdiri hendak menjabat tangan yang sudah membuat banyak tulisan itu. Dia menolak dan meminta supaya rapat di lanjutkan saja.
Sekali lagi Pak Dahlan Iskan menolak, ketika pemimpin rapat mempersilahkan dia duduk di barisan petinggi. "Biar saya duduk di sini. Saya pernah muda, dan mau duduk dideretan anak muda," katanya menunjuk kursi barisan belakang tepat yang ada di depanku.

Rapat dilanjutkan. Kembali ke tema setelah satu jam tanpa solusi. Pak Dahlan asyik mendengarkan.
Dibelakang giliran saya yang gugup. Kemudian mencerna pesan yang tersirat, mulai dari kedatangan Pak Dahlan sampai dia memutuskan untuk duduk di kursi bagian belakang.
Tak tercium aroma wangi. Kakinya juga digoyang-goyangkan, seperti adanya saya yang awam mendengar penjelasan demi penjelasan.

10 menit kemudian, Pak Dahlan menyelah. Acungkan tangan kanan.
"Manuver harus dibalas manuver. Tapi etika kejujuran harus didahulukan," katanya ringkas, kemudian duduk kembali.
Pimpinan rapat langsung mengerti. Tak perlu dijelaskan panjang lebar. Rapat kemudian mengalir kembali.

Bukan saja penampilannya yang simpel. Tapi pengambilan kebijakannya juga simpel dan sangat sederhana. Langsung ke inti tanpa harus memutari dunia.

Pematangan keputusan setelah Pak Dahlan angkat suara hanya butuh lima menit. Pertemuan usai. Barulah Pak Dahlan bersalaman dengan semua yang ada di dalam rapat.

Saya. Yah seperti itulah saya. Berpikir tentang masalah itu sangat rumit. Pak Dahlan Iskan membuktikan jika semuanya sederhana. Tak perlu lama-lama. Langsung ke pokok. Selesai.

(Samsudar Syam/WAKIL DIREKTUR PT RADAR LUWU RAYA INTERMEDIA)
Share:

Hubungan Tak Direstui ? Ini Tips Agar Dapat Restu Ortu !!!

ILSUTRASI

SUDAH merasa cocok dengan pasangan ternyata tidak mendapat restu dari orang tua. Wah, bisa galau maksimal ya? Mau putus sayang, mau nggak putus juga dilema. Harus bagaimana dong?

1. Sadari Peran Orang Tua
Jangan keburu buruk sangka bahwa orang tua tidak ingin Anda bahagia. Anda harus menyadari bahwa peran sebagai orang tua tidaklah mudah. Punya anak apalagi anak perempuan dan akan mempercayakannya pada orang lain tentu butuh kebijaksanaan yang luar biasa. Sangat penting untuk melihat hubungan Anda dari sudut pandang mereka.

2. Hormati Orang Tua
Dalam urusan hubungan, orang tua Anda jauh lebih berpengalaman dan menghargai hal itu adalah kunci di mana mungkin Anda bisa mencari celah untuk membuktikan pada mereka bahwa cinta Anda dan pasangan layak untuk dipertimbangkan. Tapi jangan ngotot, ya. Mereka masih orang tua Anda dan akan selalu begitu. Sekalipun hubungan Anda tidak direstui, Anda tetap harus menghormati mereka.

3. Mempertimbangkan Pro dan Kontra
Sebagai orang tua, tentunya perlindungan yang mereka berikan dengan tidak merestui Anda dan pasangan bukan bermaksud untuk menyakiti Anda. Coba pikirkan mengenai hubungan Anda saat ini. Mungkin ada banyak drama yang membuat orang tua Anda kemudian tidak yakin bila Anda dan pasangan merasa bahagia. Pikirkan pro dan kontra dalam hubungan Anda dan apakah Anda memang benar-benar bahagia bersamanya.

4. Bicara Pada Orang Tua
Ladies, orang tua Anda akan membantu Anda apapun yang Anda butuhkan mengenai hidup ini. Namun Anda harus bicara pada mereka. Bila Anda tidak mendapatkan restu, berdiskusi adalah hal yang baik. Walaupun sedikit, setidaknya mereka bisa mengerti hubungan Anda dengan pacar.

5. Bicara Pada Orang Tua Kekasih Anda
Bila Anda mengalami kesulitan bicara pada orang tua Anda, mengapa tidak mencoba bicara pada orang tua pacar Anda? Kadang pembicaraan antar orang tua lebih bisa nyambung dan menemukan titik temu. Hal ini bisa mempermudah jalan Anda meraih restu orang tua.

6. Alasan
Pikirkan alasan apa yang membuat orang tua sampai tidak merestui hubungan Anda. Bila Anda tidak mengerti alasannya, tanyakan pada orang tua Anda. Kemudian pikirkan apakah alasan itu bisa dinegosiasi atau tidak. Atau bagaimana Anda dan pasangan bisa merubah alasan penolakan itu dan membuktikan hubungan Anda dan si dia bisa dipercaya.

7. Bicara Pada Pasangan
Ya, karena hubungan ini bukan milik Anda sendiri, jadi bicaralah pada pasangan Anda. Katakan apa saja yang mungkin orang tua Anda tidak sukai dari hubungan Anda berdua dan siapa tahu itu menggugahnya untuk mau bicara dengan orang tua Anda juga. Anda tidak sendiri, Ladies.
Meski dalam beberapa kasus, beberapa pasangan nekat menikah walau tanpa restu orang tua, tapi kita semua pasti menginginkan ketentraman dalam menjalani kebahagiaan kita kan? Mungkin pasangan-pasangan itu hanya menunggu waktu yang tepat hingga mereka dan orang tuanya bisa sama-sama mengerti maksud masing-masing.
Sedangkan bagi Anda yang tengah mengalami hal ini, cobalah tips di atas. Tidak perlu melakukan tindakan ekstrim untuk memaksakan ego kita, tapi mengusahakan hal yang baik bagi semua. Good luck, Ladies.(*)
Share:

Kamis, 27 Oktober 2016

Tokoh Pembaharuan Islam, Cak Nur

Prof. Dr. Nurcholish Madjid

Prof. Dr. Nurcholish Madjid (lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939 – meninggal di Jakarta, 29 Agustus 2005 pada umur 66 tahun) atau populer dipanggil Cak Nur, adalah seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia.

Pada masa mudanya sebagai aktifis Himpunan Mahasiswa Islam, ide dan gagasannya tentang sekularisasi dan pluralisme pernah menimbulkan kontroversi dan mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Nurcholish pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan sebagai Rektor Universitas Paramadina, sampai dengan wafatnya pada tahun 2005

MASA KECIL DAN PENDIDIKAN
Ia dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan kalam Ibnu Taimiyah.

IDE PEMBAHARUAN ISLAM

Cak Nur dianggap sebagai ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasannya tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan di masanya, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.

Cak Nur dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman /ke-bhinneka-an keyakinan di Indonesia. Menurut Cak Nur, keyakinan adalah hak primordial setiap manusia dan keyakinan meyakini keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang mendasar. Keyakinan tersebut sangat mungkin berbeda-beda antar manusia satu dengan yang lain, walaupun memeluk agama yang sama.

Hal ini berdasar kepada kemampuan nalar manusia yang berbeda-beda, dan dalam hal ini Cak Nur mendukung konsep kebebasan dalam beragama. Bebas dalam konsep Cak Nur tersebut dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih.

Cak Nur meyakini bahwa manusia sebagai individu yang paripurna, ketika menghadap Tuhan di kehidupan yang akan datang akan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, dan kebebasan dalam memilih adalah konsep yang logis. Manusia akan bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang ia lakukan dengan yakin. Apa yang diyakini, itulah yang dipertanggung jawabkan. Maka pahala ataupun dosa akan menjadi benar-benar imbalan atas apa yang secara yakin ia lakukan.


Sebagai tokoh pembaruan dan cendikiawan Muslim Indonesia, seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Cak Nur sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaruan Islam di Indonesia. Pemikirannya dianggap sebagai sumber pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat.

REFORMASI 1998
Namun demikian, ia juga berjasa ketika bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan pada tahun 1998. Cak Nur sering diminta nasihat oleh Presiden Soeharto terutama dalam mengatasi gejolak pasca kerusuhan Mei 1998 di Jakarta setelah Indonesia dilanda krisis hebat yang merupakan imbas krisis 1997. Atas saran Cak Nur, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari gejolak politik yang lebih parah.

KONTROVERSI

Ide dan Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi dan pluralisme tidak sepenuhnya diterima dengan baik di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Terutama di kalangan masyarakat Islam yang menganut paham tekstualis literalis (tradisional dan konservatif) pada sumber ajaran Islam.

Mereka menganggap bahwa paham Cak Nur dan Paramadinanya telah menyimpang dari teks-teks Al-Quran dan Al-Sunnah. Gagasan Cak Nur yang paling kontroversial adalah saat dia mengungkapkan gagasan "Islam Yes, Partai Islam No?" yang ditanggapi dengan polemik berkepanjangan sejak dicetuskan tahun 1960-an , sementara dalam waktu yang bersamaan sebagian masyarakat Islam sedang gandrung untuk berjuang mendirikan kembali partai-partai yang berlabelkan Islam. Konsistensi gagasan ini tidak pernah berubah ketika setelah terjadi reformasi dan terbukanya kran untuk membentuk partai yang berlabelkan agama.(*)
Share:

Rabu, 26 Oktober 2016

Siapa Yang Menulis Rumusan Sumpah Pemuda??? Ini Orangnya !!!

Mohammad Yamin (Penulis Rumusan Naskah Sumpah Pemuda)
SUMPAH Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

 Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia".

Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan". Istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya.
Naskah Sumpah Pemuda
Bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda dengan penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen. Yakni, Pertama, Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea, Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Dan ketiga, Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ucapan Peringatan Hari Sumpah Pemuda oleh DPD II Komite Nasional Pemuda Indonesia Kota Palopo
Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga.

Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.(*)
Share:

Uang Panai', Pacaran, dan Pernikahan

ILUSTRASI
Pacaran, adalah kata yang sangat tidak asing bagi para remaja, muda-mudi bahkan orang tua. Menurut mayoritas beberapa muda-mudi, ada beberapa hal yang mendasari mereka mau berpacaran. Ada yang bilang karena ada rasa suka, rasa nyaman, dan rasa kagum, serta ada rasa cinta terhadap sesorang, sehingga mereka berani menjalani hubungan yang namanya pacaran.

Ada jg juga yang mengatakan bahwa pacaran dijalankannya, sebagai proses saling kenal antara dua sejoli, sebelum melaju ke pelaminan, untuk melangsungkan pernikahan. Bukan hanya itu, banyak hal lain yang menjadi alasan bagi muda-mudi untuk berpacaran, termasuk untuk merasa gengsi jika tidak pacaran. ''Hari gini tidak punya pacar? apa kata dunia?'' demikianlah sejumlah muda-mudi menjawab jika ditanya alasan mereka berpacaran.

Dari sekian banyak pernyataan muda-mudi mengenai alasan mereka berpacaran, ada satu jawaban yang menurut saya menarik untuk dibahas dalam tulisan saya yang sedikit berantakan ini. Alasan yang saya maksud, adalah ketika muda-mudi menalin pacaran untuk saling kenal, sebelum menuju ke pelaminan. Bagi saya secara pribdai, ini sangat menarik, karena tak jarang mereka yang menjalin hubungan pacaran, berujung putus dan tidak berakhir di pelaminan atau menikah. Biasanya, alasan muda-mudi yang telah menjalin hubungan pacaran lantas putus, karena mereka merasa belum cocok. Sehingga harus mencari pasangan lain yang lebih cocok. Nah, bukankah dalam pacaran yang dimaksud mereka harus saling kenal agar mereka bisa lebih cocok, saling memahami dan mengerti satu sama lain? Lantas kecocokan yang mana yang dimaksud? Mungkin kah itu hanya dalih, karena belum siapnya mereka menikah pasca pacara terlalu lama? sebut saja misalkan pacaran selama tiga sampai enam tahun, lantas putus karena alasan ketidak cocokan. Apakah selama menjalani hubungan yang terbilang cukup lama itu, mereka terpaksa merasa cocok atau bagaimana?

Putus ditengah jalan, dan tidak berujung pada pernikahan spertinya tidak hanya disebabkan oleh alasan ketidak cocokan antara muda-mudi. Banyak juga fenomena putus cinta karena ditinggal menikah. Waduhh... kenapa bisa begitu? paling banyak alasan tentang hal ini adalah persoalan ekonomi. "Uang Panaik" adalah salah atu penyebabnya. Pacaran bertahun-tahun, bukan jaminan untuk menikah. Jaminan menikah dengan pasangan saat ini adalah ekonomi. Banyak fenomena yang kita temui, bahwa seorang lelaki terpaksa harus pasrah menyaksikan kekasihnya dinikahi oleh orang lain, hanya karena tak mampu melamar dengan uang panaik yang mencekik leher.

Fenomena ini membuat saya menarik kesimpulan, bahwa pendapat sejumlah pemuda-pemudi soal pacaran, adalah masa berkenalan sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan ternyata salah. Karena menurut saya, pacaran, saling kenal bahkan disaat sepasang kekasih sudah merasa cocok, masih ada satu hambatan yang harus dilalui, yakni uang panaik, yang harus sesuai dengan permintaan calon mertua. Untung baik, jika pemuda mapan yang berada pada posisi tersebut. Yang bisa saja langsung mengatakan, ya, saya sanggup berapapun uang panaik atau uang lamaran yang diminta oleh calon mertua atau pasangannya. Bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki kemampuan atau tak menyanggupi permintaan si calon isteri, atau calon mertua? Tentu saja tak ada cara lain, selain mengikhlaskan pujaan hatinya, yang selama bertahun-tahun bersama dengannya, malah dinikahi oleh orang lain.

Bahkan orang yang mungkin baru saja dikenal oleh sang pujaan hatinya, justeru harus diterimanya sebagai suami, hanya persoalan finansial yang dimiliki orang tersebut. Artinya, pacaran yang lama bukan jaminan untuk menikahi orang yang sudah bertahun-tahun menjalin hubungan, dengan adanya tradisi uang panaik. Tetapi modal ekonomi yang mapan adalah kepastian bagi seorang laki-laki dewasa untuk menikah.

Nah, makanya dalam tulisan ini, penulis mencoba memulainya dengan gambaran, bahwa uang panaik atau mahar dalam budaya tertentu, menyiksa, khususnya bagi lelaki. Sebab sangat jelas, jika persoalan mahar yang mahal membuat orang batal mempersunting pujaan hatinya yang bertahun-tahun waktunya dibagi untuk sang kekasih. Dulu, persoalan uang panaik yang jumlahnya harus besar, hanya berlaku bagi suku bugis saja. Tetapi hari ini, sudah menjadi hal yang wajib dalam sebuah pernikahan bagi semua suku di Sulsel, uang panaik harus besar jumlahnya. Bahkan, kadang disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan latar belakang perempuan yang akan dinikahi.

Mari kita coba ulas sedikit seperti apa mahar dalam islam, tradisi uang panai, dan pernikahan. Penulis mencoba mencari referensi tentang ketiga hal yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini. Akhirnya penulis menemukan salah satu referensi tentang mahar dalam islam. "Sebaik–baik perempuan adalah yang paling murah maharnya" (HR. Ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Ahmad). Hal ini yang mungkin tidak disadari oleh sebagian kaum perempuan dan para orang tua yang memiliki anak perempuan.

Dominasi gengsi sebenarnya menjadi salah satu pemicu persoalan uang panaik atau dalam islam disebut sebagai mahar. Seharusnya mereka sedar ketika meminta mahar mahal, sedangkan lelaki yang ingin melamar tidak memiliki sesuatu yang ia minta, maka keberkatan pernikahan itupun hilang. Karena telah mempersulitkan sesuatu yang baik bagi sang perempuan itu sendiri, yakni sebuah pernikahan.

Dalam sebuah artikel disebutkan, bahwa seharusnya seorang perempuan yang ingin diberikahi pernikahannya, tentunya harus mempermudah maharnya, mempermudahkan jalan lelaki yang hendak melamarnya. Karena itu merupakan sunnah Rasulullah SAW. Sebenarnya seorang wanita sangat memerlukan pendamping, apabila menolak hanya karena uang panaik, padahal dia seorang lelaki muslim yang soleh, maka sangat rugilah dia.

Bahkan Rasulullah pernah menyuruh seorang pemuda yang ingin menikah, namun tak memiliki apa-apa, untuk mencari sebuah cincin walaupun dari hanya terbuat dari besi (bukan emas atau berlian). Ini semakinb meyakinkan kita, khususnya ummat muslim yang ada di Sulsel, khususnya di Luwu Raya, yang merupakan tanah kelahiran penulis, bahwa sesungguhnya Islam sangat memuliakan perempuan yang tidak meminta mahar yang lebih.

Sekaitan dengan itu, dalam Haditz Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, disebutkan wanita itu dinikahi karena empat pertimbangan, kekayaannya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Sehingga kita dianjurkan memilih perempuan yang beragama agar kita senantiasa beruntung. Sangat jelas bahwa mahar yang tinggi bukanlah sebuah batu yang mengganjal calon muda-mudi untuk tidak bersatu dalam bingkai pernikahan.

Diatas kita sudah membahas soal mahar, yang menurut kesimpulan penulis, seharusnya mahar bukan penghalang bagi muda-mudi untuk melangsungkan pernikahan. Yang penting maharnya ada dan ikhlas bagi yang memberikan dan yang menerima. Sekarang penulis mencoba memberikan gambaran tentang tradisi uang panaik. Pada dasarnya uang panaik merupakan tradisi dalam budaya bugis untuk menikahi wanita bugis. Hanya saja, saat ini budaya itu sudah merembes ke hampir seluruh jazirah negeri ini, khususnya di Sulawesi terkhusus di Sulsel. Uang panaik, dalam budaya tersebut berupa uang, yang jumlahnya besar. Biasanya menurut calon mempelai perempuan, itu akan digunakan pada semua kebutuhan selama proses pernikahan berlangsung termasuk resepsi. dan resepsniya harus meriah, sehingga tak ada alasan bagi mereka, uang panaik itu kecil jumlahnya.

Nah, sekarang kita membahas sedikit tentang pernikahan. Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain, juga dapat berarti Ijab Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia, yang diucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam. Kata zawaj digunakan dalam al-Quran artinya adalah pasangan yang dalam penggunaannya pula juga dapat diartikan sebagai pernikahan, Allah menjadikan manusia itu saling berpasangan, menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina. Menurut bahasa, nikah berarti penyatuan , diartikan juga sebagai akad atau hubungan badan. Selain itu, ada juga yang mengartikan dengan percampuran.

Sedangkan pengertian hubungan badan itu, hanya merupakan metafora saja. Bahkan dikatakan, bahwa nikah itu tidak disebut dalam al-qur’an melainkan diartikan dengan akad. Dengan pemahaman lain bahwa dengan akad tersebut maka menjadi boleh pada apa yang boleh dilarang. Tegasnya, pernikahan adalah sesuatu akad suci dan luhur antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sebab sahnya status suami istri dan dihalalkannya hubungan seksual dengan tujuanmencapai keluarga sakinah mawaddah warrohmah dengan penuh kasih sayang dan saling menyantuni.

Untuk menikah, tentunya ada yang namanya Rukun Nikah, yang harus dipenuhi. Ini adalah hal yang sangat wajib. Rukun nikah terdiri dari kdua mempelai, sighat atau ijab qobul, wali, dan dua orang saksi. Untuk calon suami, juga ada syarat berdasarkan ijtihad para ulama. Yang pertama, Calon suami beragama islam, laki-laki, halal nikah dengan calon istri, kenal pada calon istri serta tahu bahwa calon istrinya halal untuk dinikahi, ridho (tidak terpaksa), Tidak sedang melakukan ihram, dan syarat terakhir, tidak sedang mempunyai istri empat.

Untuk perempuan, syarat calon pengantin perempuan, yang pertama Beragama islam, perempuan, Halal bagi calon suami, tidak dalam ikatan pernikahan dan tidak dalam masa iddah, tidak dipaksa (ikhtiyar), dan Tidak dalam ikhram haji atau umrah.

Dari rukun Nikah, yang wajib itu, tidak disebutkan soal uang panaik atau mahar yang berlebihan. Dalam hukum melakukan nikah dalam islam, juga dianjurkan beberapa hukum, yakni wajib, sunnah, haram, makruh ataupun mubah. Menikah wajib bagi orang yang telah mempunyai kemauan dan dikhawatirkan akan tergelincir pada perbuatan zina seandainya ia tidak menikah. Sunnah bagi orang yag telah mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menikah tetapi kalau tidak menikah tidak dikhawatirkan berbuat zina. Haram bagi orang yang tidak mempunyai keinginan dan tidak mempunyai kemampuan serta tanggung jawab untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam rumah tangga, sehingga apabila melangsungkan pernikahan akan terlantarkan dirinya dan istrinya. Makruh bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pernikahan juga cukup mempunyai kemampuan untuk menahan diri shingga tidak memungkinkan dirinya tergelincir berbuat zina sekiranya tidak menikah. Mubah bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pernikahan, tetapi apabila tidak melakukan tidak khawatir akan berbuat zina dan apabila melakukan nikah juga tidak melantarkan istri.

Dari hukum nikah dalam Islam, sangat jelas dikatakan bahwa "Wajib bagi orang yang mempunyai kemauan". Artinya tanpa uang panaik yang tinggi, yang penting ada kemauan, wajib menikah, untuk menghindari zina. sampai disini, ada beberapa hal yang ingin penulis sampaikan, yang pertama soal uang panaik dan jumlah nominalnya yang sangat banyak, semestinya tidak dijadikan patokan. Karena segala hal tergantung dari usaha individu dan berpulang pada keputusan Tuhan yang maha esa. Disamping itu pihak keluarga juga harus lebih terbuka fikirannya mengenai kelangsungan pernikahan yang tidak dapat dinilai dari kemegahan pesta, atau perayaan pernikahan yang dilakukan. Serta dari banyak tidaknya uang yang dimiliki oleh pria yang akan melamar. Karena uang hanya hiasan dalam kehidupan sementara tujuan hidup adalah ketenangan.

Budaya seharusnya tidak dijadikan sebagai penghalang, namun dilihat sebagai pewarna dalam sosialisasi dan interaksi kehidupan. Saya juga ingin mengatakan, bahwa sesungguhnya wanita sangat memerlukan pendamping, sehingga tak ada alasan bagi seorang perempuan mempermasalahkan uang panaik atau mahar. Dan untuk laki-laki, tentunya juga sangat memerlukan wanita sebagai pemelihara dirinya, rumah tangganya, juga anak-anaknya kelak. Sehingga laki-laki sepatutnya memuliakan perempuan dengan mahar tertinggi yang dia mampu. Ingat, yang dia mampu. Hindari sikap gengsi, untuk apa meriah jika tidak berkah. Utamakan keberkahannya.

Sebelum mengakhiri tulisan saya, saya mau mengutip sedikit puisi.

Wanita yang MULIA... Wanita yang SHOLEHAH... adalah yang MURAH MAHARNYA.Wanita yang SHOLEHAH tidak akan pernah mata duitan, menghendaki MAHAR MAHAL. MAHAR adalah TANDA CINTA seorang calon suami kepada calon isterinya. Sebesar apapun pemberian mahar itu, terimalah. Bukan besar kecilnya MAHAR, tapi KETULUSAN CINTA yang ada dibalik MAHAR itu. Bukan bentuk MAHAR yang dilihat. Tapi KESUNGGUHAN HATI seseorang yang memberikannya dengan penuh CINTA. Bukan bagusnya MAHAR yang diharap, tetapi KESETIAAN, KEJUJURAN, KASIH SAYANG, PERLINDUNGAN, KEAMANAN yang diharapkan. "Itulah WANITA SHOLEHAH sejati yang tidak MENARGETKAN MAHAR MAHAL. Tetapi MAHAR yang SESUAI dengan KEMAMPUAN sang calon SUAMI" Sebaik baik mahar adalah yang paling Mudah dan Murah !
Wassalam (*)
Share:

Sabtu, 13 Juli 2013

Biografi Ustad Jefry,Dari Pecandu Jadi Ustad


Ustadz ganteng ini laris diminta berdakwah. Perjalanan hidup Jeffry Al Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa ia alami sampai ia menemukan kehidupan yang tenang dan menenteramkan. Simak kisahnya yang sangat memikat ini

Sebetulnya aku tidak ingin bercerita banyak tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah kupikir, siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Baiklah, aku bersedia membagi pengalaman hidupku pada para pembaca. Insya Allah, ada gunanya.
Aku lahir dengan nama Jeffry Al Buchori Modal pada 12 April 1973 di Jakarta. Waktu aku lahir, keluargaku memang sudah menetap di Jakarta. Aku lahir sebagai anak tengah, maksudku anak ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandungku laki-laki, dan si bungsu adalah perempuan. Layaknya bersaudara, hubungan kami berlima cukup dekat. Sekadar bertengkar, sih, wajar saja. Apalagi, jarak usia kami tidak berjauhan.
Apih (panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M. Ismail Modal, adalah pria bertubuh tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi, begitu aku biasa memanggil ibu, Tatu Mulyana asli Banten. Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras. Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau kami sampai lupa salat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih. Dalam hal agama, Apih dan Umi memang mendidik kami secara ketat.
Namun, sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Dia akan membela keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia tidak segan-segan menyalahkan kami bila memang berbuat salah.
Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuatku menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, aku pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua.
Lulus SD, Apih memasukkanku dan kedua kakakku ke sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang. Beliau ingin kami mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalanku.
Orang bilang, anak tengah biasanya agak nakal. Aku tidak tahu ungkapan itu benar atau tidak. Yang jelas hal itu berlaku padaku. Sebagai anak tengah, aku sering membuat orang tua kesal. Di pesantren, aku sering berulah.
Salah satu kenalakanku, di saat yang lain salat, aku diam-diam tidur. Kenakalan lain, kabur dari pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa. Sebagai hukumannya, kepalaku sering dibotaki. Tapi, tetap saja aku tak jera.
Tampaknya aku seperti punya kepribadian ganda, ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama kedua kakakku, aku juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke Jalan Allah yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren.
Bahkan, aku juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa, aku juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan. Tinggal dalam lingkungan pesantren, kelakuan burukku bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya, aku sudah bosan bersekolah di pesantren.
Akhirnya, hanya empat tahun aku di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.). Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai beranjak remaja justru jadi makin nakal.
KENAL DUNIA MALAM
Memang, sih, tiap ada acara keagamaan aku tak pernah ketinggalan. Namun, aku juga selalu mau bila ada teman mengajak ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi memakai narkoba! Aku juga sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya, aku seperti burung lepas dari sangkar, terbang tak terkendali.
Masa SMA memang suram bagiku. Masa yang tak pernah lengkap. Maksudnya, aku tak punya teman sebaya. Kenapa? Ya, meski usiaku masih 15 tahun, aku bergaul dengan pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan yang lebih tua. Di sekolah ini aku hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA lain, keseharianku tak jauh berbeda. Malah makin parah.
Dari perkenalan dengan beberapa teman, aku mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun, aku mulai kenal dunia malam. Aku masuk sekolah hanya saat ujian. Buatku, yang penting lulus. Aku lebih suka mendatangi diskotek untuk menari. Terus terang, aku memang tertarik pada tarian di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. Lalu kutirukan.
Aku jadi seorang penari, bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain, tenggelam dalam dunia malam. Saat ada lomba dance, aku mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia. Beberapa kali aku berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer. Selain itu, aku juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya selama setahun. Sampai sekarang masih banyak temanku yang jadi penari di sana.
Aku juga pernah jadi foto model, bahkan ikut fashion show di diskotek. Mungkin waktu itu aku merasa sangat cakep, ya. Tapi menurutku, kegiatan-kegiatan itu masih positif, meski terkadang aku suka minum. Dengan segala kebengalanku, tahun 1990 aku berhasil lulus SMA.
MAIN SINETRON
Aku mengalami masa yang menurutku paling dahsyat setelah tamat SMA. Ceritanya salah seorang teman penari, memperkenalkanku pada Aditya Gumai yang saat itu aktif di dunia seni peran. Dari Aditya aku mengenal dunia akting. Waktu itu, kami masih latihan menari di Taman Ismail Marzuki. Saat latihan pindah ke Gedung Pemuda di Senayan, mulailah aku main sinetron. Mulanya aku hanya mengamati para pemain yang sedang syuting, sambil diam-diam belajar.
Aku memang suka mencuri ilmu. Waktu tidur di kos salah satu temanku di dekat kampus Institut Kesenian Jakarta, aku sering mencuri ilmu juga dari para mahasiswa. Kalau mereka sedang kuliah atau praktik, aku sering mengamati mereka.
Nah, ketika para pemain sinetron sedang latihan, terkadang aku menggantikan salah satunya. Ternyata aku ditertawakan. Karena pada dasarnya aku orang yang enggak suka diperlakukan seperti itu, aku malah jadi terpacu. Aku makin giat berlatih akting secara otodidak. Akhirnya, saat yang senior belum juga dapat giliran main, aku sudah mendapat peran. Aku diajak Aditya main sinetron. Waktu dikasting, aku berhasil mendapat peran.
Tahun 1990, aku main sinetron Pendekar Halilintar. Saat itu, sinetron masih dipandang sebelah mata oleh bintang film. Namun, Apih mati-matian menentangku. Kenapa? Rupanya Apih tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga pernah main film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari beliaulah aku menuruni darah seni.
Ditentang Apih tak membuat langkahku surut. Mungkin jalan hidupku memang harus begini. Tak satu pun larangan Apih yang mampir ke otakku untuk kujadikan bahan pikiran. Nasihat Apih tak lagi kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuatku makin yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang tua karena merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku pecah.
Sebagai bentuk perlawananku pada orang tua, aku tak pernah pulang ke rumah. Tidur berpindah-pindah di rumah teman. Rambut juga kupanjangkan. Aku seperti tak punya orang tua. Bahkan, tak pernah terlintas dalam benakku bahwa suatu hari mereka akan pulang ke haribaan. Yang kupikirkan hanya kesenangan dan egoku semata.
Pada saat bersamaan, karierku di dunia seni peran terus melaju. Aku semakin mendapatkan keasyikan. Setelah itu, aku mendapat peran dalam sinetron drama Sayap Patah yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD Mochtar.
Aku semakin merasa pilihanku tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Aku bangga bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombonganku makin menjadi. Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku.
***
“DI KABAH, KUMINTA AMPUNAN ALLAH”
Tawaran main sinetron berdatangan menghampiri Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin tenggelam dalam dunianya yang kelam.
Sejak kenal sinetron, aku makin menyukai dunia akting. Aku tak peduli meski Apih menentangku. Namun, belakangan aku paham, di balik etidaksetujuannya, sebetulnya orang menyimpan rasa bangga. Orang tua cerita, mereka sedang ke Tanah Suci membawa rombongan ibadah haji saat sinetron Sayap Patah yang kumainkan ditayangkan.
Ternyata, mereka nonton sinetronku. Komentar mereka membanggakanku. Mereka mengakui, ternyata aku bisa berprestasi. Setelah itu, aku mendapat berbagai tawaran main, antara lain sinetron Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman, dan Kerinduan. Selain namaku makin mencuat, rezeki juga terus mengalir.
Namun, aku malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Kalau ke diskotek, aku tak lupa mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum “on”, kuminum satu lagi. Begitu seterusnya.
Akhirnya, aku jadi sangat mabuk. Pandanganku pun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan saja, aku harus mendekatkannya ke wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Parah, ya? Begitulah kebandelanku terus berlangsung.
KECANDUAN KIAN PARAH
Suatu hari di tahun 1992, Apih meninggal karena sakit. Aku menyesal bukan main karena selama ini selalu mengabaikan nasihat Apih. Menjelang kepergiannya, aku berdiri di samping tempat tidurnya di rumah sakit sambil menangis. Melihatku seperti itu, Apih mengatakan, laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar air mata. Bayangkan, bahkan di saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan sikapnya yang penuh kasih padaku yang durhaka ini.
Sore itu aku dimintanya pulang ke rumah dan beliau memberiku ongkos. Aku menurut. Begitu aku pulang, Allah mengambilnya. Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku. Selama Apih masih hidup, aku tak pernah mau mendengarkan ucapannya.
Sejak itu, Umi membesarkan kami berlima. Hidupku terus berjalan. Bukan ke arah yang baik, namun aku kembali ke masa seperti dulu. Penyesalan yang sebelumnya begitu menghantuiku karena ditinggal Apih, seolah lenyap. Kebandelanku bahkan makin menjadi sepeninggal Apih. Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena merasa berprestasi dan punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi nasihatnya.
Ketika temanku menasihati, aku mencibir. Siapa dia sampai aku harus mendengarkan ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri dan jadi pecandu narkoba. Waktu itu, aku beralasan karena ada masalah di rumah. Padahal, sebetulnya alasan apa pun, termasuk broken home atau teman, tidak bisa dijadikan alasan. Diri sendirilah alasannya, karena bagaimana pun, kita lah yang menentukan semua yang terjadi pada diri kita.
Jadi, tidak perlu membawa-bawa orang lain atau keadaan. Namun, kesadaran seperti ini mana mungkin muncul pada diriku yang waktu itu sangat arogan? Aku makin jauh dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahku ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, aku tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, aku malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana aku bisa berbuat maksiat.
Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang. Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral terus kulakukan.
NAMA DICORET
Tak perlu aku menceritakan detail tentang kejahatan yang kulakukan. Yang jelas, suatu hari aku merasa menderita karena ketakutan setelah melakukan sebuah perbuatan. Aku benar-benar ketakutan! Aku jadi gampang curiga pada siapa saja. Aku selalu berburuk sangka pada apa pun. Kesombonganku pada uang dan prestasi lenyap digantikan ketakutan. Yang kulakukan setiap hari adalah berdiam diri di kamar, dengan selalu berpikiran bahwa setiap orang yang datang akan membunuhku. Aku sibuk mengintip dari bawah pintu, siapa tahu ada orang datang untuk membunuhku.
Telingaku jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang-orang mengatakan, aku sudah gila.
Pada saat bersamaan, kecanduanku pada narkoba membuatku termasuk dalam daftar hitam dunia sinetron. Namaku dicoret. Tak ada lagi yang mau memakaiku sebagai pemain. Selain itu, cewek-cewek yang ada di dekatku juga menjauh. Dulu aku termasuk playboy.
Di saat aku sendiri, ada Umi yang selama ini sudah sangat sering kusakiti hatinya. Umi tetap menyayangiku dengan cintanya yang besar. Seburuk apa pun orang berkomentar tentang aku, hati Umi tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama aku agar berubah jadi lebih baik.
Doa tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya padaku. Allah memberiku kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat suatu proses yang begitu mencekamku.
DIAJAK UMI UMRAH
Sungguh, aku merasa sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri dalam kain kafan. Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri sendiri. Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah, setiap tidur aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang kudapat hanya penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi.
Aku juga jadi takut mati. Padahal dulu aku sempat menantang maut. Meminta mati datang karena aku tak sanggup lagi bertahan saat ada masalah dengan seorang cewek. Sebetulnya sepele, kan? Tapi masalah itu kuberat-beratkan sendiri. Rasa takut mati itulah yang akhirnya membuatku sadar bahwa ada yang tidak meninggalkanku dalam keadaan seperti ini, yaitu Allah.
Aku teringat kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatanku selama ini. Pelan-pelan, keadaanku membaik. Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Aku menemui Umi, bersimpuh meminta maaf atas semua dosa yang kulakukan. Umi memang luar biasa. Betapa pun sudah kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi dan memaafkanku. Umi lalu mengajakku berumrah.
Dengan kondisiku yang masih labil dan rapuh, kami berangkat ke Tanah Suci. Kali ini aku berniat sembuh dan kembali ke jalan Allah. Di sana, aku mengalami beberapa peristiwa yang membuatku sadar pada dosa-dosaku sebelumnya. Usai salat Jumat di Madinah, Umi mengajakku ke Raudhoh. Aku tak tahu apa itu Raudhoh, tapi kuikuti saja. Umi terus meminta ampunan pada Allah.
Aku lalu keluar, berjalan menuju makam Nabi Muhammad. Aku bersalawat. Begitu keluar dari pintu masjid, rasanya seperti ada yang menarikku. Aku mencoba berjalan sekuat tenaga, tapi tak bisa. Kekuatan itu rasanya sangat besar. Aku lalu bersandar pada tembok. Air mataku yang dulu tak pernah keluar, kini mengalir deras. Aku menyesali dosa-dosaku, dan berjanji tak akan melakukan lagi semua itu.
Bagai sebuah film yang sedang diputar, semua dosa yang pernah kulakukan terbayang jelas di pelupuk mataku silih berganti, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Tiba-tiba dari mulutku keluar kalimat permintaan ampunan pada Allah. Di Mekkah, di hadapan Kabah, aku merapatkan badan pada dindingnya.
Aku bersandar, menengadahkan tangan memohon ampun karena terlalu banyak dosa yang kulakukan. Seandainya sepulang dari Tanah Suci ini melakukan dosa lagi, aku minta pada Allah untuk mencabut saja nyawaku. Namun, seandainya punya manfaat untuk orang lain, aku minta disembuhkan. Aku yang dulu angkuh, sekarang tak berdaya. Setelah pulang beribadah, aku membaik. Aku mencoba bertahan dalam kondisi bertobat itu, tapi ternyata sulit luar biasa.
*****
BIDADARI CANTIK JADI PEMBANGKIT HIDUP
Setelah berkali-kali jatuh-bangun, akhirnya Jeffry kembali dekat pada agama. Kasih sayang kekasih yang akhirnya menjadi istri ikut menjadi pembangkit semangatnya. Perjuangannya menjadi ustaz cukup berat sampai akhirnya ia sukses jadi penceramah. Sepulang umrah, aku mencoba hidup lurus. Namun, lagi-lagi aku tergoda. Suatu malam, aku dan teman-teman berencana nonton jazz di Ancol. Aku memperingatkan mereka untuk tidak bawa narkoba, karena
kami sudah sepakat untuk berhenti memakai. Ternyata, salah satu temanku masih saja membawa cimeng. Apesnya, kami dirazia polisi di depan Hailai.

Teman-temanku yang lain kabur. Tinggallah aku, temanku yang membawa cimeng, dan satu teman lain. Aku sulit kabur karena mobil yang kami pakai adalah mobilku. Akhirnya kami bertiga dibawa ke kantor polisi dan ditahan. Aku dilepas karena tak terbukti membawa. Kucoba telepon Umi untuk menjelaskan masalah ini, tapi Umi tak mau menerima teleponku.
Si penerima telepon malah diminta Umi untuk mengatakan, beliau tak anak bernama Jeffry. Hatiku tercabik-cabik. Pedih rasanya tak diakui sebagai anak oleh Umi. Kuakui, pastilah hati Umi sudah sedemikian sakitnya. Bayangkan, aku yang sebelumnya sudah mengaku bertobat, malah kembali memilih jalan yang salah. Meski aku sudah bersumpah demi Tuhan tidak memakai narkoba lagi, Umi tak percaya lagi. Itulah puncak kemarahan Umi Sungguh bersyukur, Allah masih berkenan menolongku. Datang seorang gadis cantik dalam hidupku. Ia mau menerimaku apa adanya. Sebelumnya, banyak gadis meninggalkanku sehingga aku merasa sebatang kara dalam cinta. Gadis bernama Pipik Dian Irawati ini seorang model sampul sebuah majalah remaja tahun 1995, asal Semarang.
CUEK SAAT PACARAN
(Berikut ini adalah penuturan Pipik: Aku pertama kali melihatnya sedang makan nasi goreng di Menteng sekitar tahun 1996 – 1997. Rambutnya gondrong. Waktu itu, aku bersama Gugun Gondrong. Setahuku, Jeffry adalah pemain sinetron Kerinduan, karena aku mengikuti ceritanya. Aku ingin berkenalan dengannya, tapi Gugun melarangku.
Tak tahunya, waktu buka puasa bersama di rumah Pontjo Sutowo, aku bertemu lagi dengannya. Rambutnya sudah dipotong pendek. Aku nekat berkenalan. Kami mulai dekat dan saling menelepon. Aku enggak tahu kapan kami resmi pacaran, karena enggak pernah “jadian”. Dia juga tak pernah menyatakan cinta. Waktu pacaran, dia cuek setengah mati.
Awalnya, semangatnya boleh juga. Pertama kami pergi bareng, dia datang ke rumah di Kebon Jeruk, di tengah hujan deras dari rumahnya di Mangga Dua. Jeffry naik taksi dengan memakai jins dan sepatu bot. Ia yang hanya bawa uang Rp 50 ribu, mengajakku nonton di Mal Taman Anggrek. Di dalam bioskop, kami seperti nonton sendiri-sendiri. Dia diam saja selama nonton.
Sejak itu, kami sering jalan bareng, karena kami memang hobi nonton dan makan. Semakin dekat dengannya, aku makin tahu ternyata dia pemakai narkoba kelas berat. Teman-temanku mulai bertanya, mengapa aku mau berpacaran dengannya. Aku sendiri tak tahu persis alasannya. Mungkin rasa sayang yang sudah terlanjur muncul dalam hati yang membuatku mau bertahan. Hatiku terenyuh dan tak mau meninggalkan dia sendiri.
Tentu saja keluargaku tak ada yang tahu, karena sengaja kusembunyikan. Mungkin mereka baru tahu sekarang, setelah membaca kisah hidupnya di berbagai media. Sementara itu, aku sibuk tur keluar kota sebagai model, sehingga kami sering tak ketemu. Akhirnya kami putus. Waktu akhirnya ketemu lagi, ternyata dia sudah punya pacar lagi. Karena masih sayang, aku sering membawakannya hadiah dan memberi perhatian. Setelah Jeffry putus dari pacarnya, kami kembali bersatu.)
JUALAN KUE
Pipik sangat berarti buatku. Dia mengerti, peduli dan perhatian padaku. Padahal, aku sempat hampir menikah dengan orang lain. Ternyata Allah sayang padaku. Allah menunjukkan, wanita yang nyaris kunikahi itu bukan untukku. Pipik bagai bidadari yang datang dengan cinta yang besar. Ia memberi keyakinan, menikah dengannya akan membawa perubahan besar dalam hidupku.
Aku mendatangi Umi dan minta izin untuk menikah. Luar biasa, Umi tetap menerimaku dengan segala kasih sayangnya. Sambil menangis, Umi mengizinkanku menikah. Aku sendiri terbilang nekat. Sebab, waktu itu aku tak punya-apa. Badan pun kurus kering, dengan mata belok, dan penyakit paranoid yang kuderita tak kunjung sembuh. Bahkan, pekerjaan pun aku tak punya.
Untuk menghindari maksiat, kami menikah di bawah tangan pada tahun 1999. Teman-temanku yang sekarang sudah meninggal karena over dosis, sempat menghadiri pernikahanku. Setelah itu, kami tinggal di rumah Umi. Sekitar 4 – 5 bulan setelah itu, kami menikah secara resmi di Semarang.
Namun, menikah rupanya tak cukup menghentikan kebandelanku. Istriku pun merasakan getahnya. Aku pernah memakai narkoba di depannya, dan menggunakan uangnya untuk membeli barang haram tersebut.
Kesulitan lain, aku dan Pipik sama-sama menganggur. Pernah kami mencoba berdagang kue. Malam hari kami menggoreng kacang, esok paginya bikin kue isi kacang dan susu. Lalu kami titipkan ke toko kue.
Tapi mungkin rezeki kami bukan di situ. Kue yang kami buat hanya laku beberapa buah. Dalam sehari kami hanya membawa pulang Rp 200 – 300. Akhirnya kami berhenti berjualan kue. Kehidupan kami selanjutnya kami jalani dengan penuh perjuangan sekaligus kesabaran.
MAKAN SEPIRING BERDUA
(Kesetiaan Pipik begitu luar biasa. Simak penuturannya berikut ini. Perasaan sayang yang sangat kuat membuatku mantap menikah dengannya. Aku tak peduli lagi meski dia pecandu, bahkan pernah mengalami over dosis dan hampir gila karena paranoidnya. Aku banyak mengalami hal-hal luar biasa dengannya. Kalau tidak sabar, mungkin aku sudah tidak bersamanya lagi.
Awal menikah, kami tinggal di rumah Umi. Meski hidup seadanya, beliaulah yang membiayai hidup kami. Aku dan Jeffry tak jarang makan sepiring berdua, karena memang benar-benar tak ada yang bisa dimakan. Berat rasanya jadi istri dari suami penganggur, apalagi setelah menikah aku tidak lagi bekerja.
Tapi aku yakin, Allah tidak mungkin memberikan cobaan pada umat-Nya melebihi kemampuannya. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang akan diberikan Allah padaku. Beruntung, Umi sangat sayang padaku.
Aku sendiri tak jera memberi masukan padanya untuk mengubah hidup. Kami sama-sama saling belajar menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Pelan-pelan, hidupnya mulai berubah menjadi lebih baik, terutama setelah aku hamil. Mungkin dia sendiri sudah capek dengan kehidupannya yang seperti itu.)
HIDUP DI JALAN ALLAH
Pelan-pelan, aku kembali dekat pada agama. Perubahan besar terjadi dalam hidupku pada tahun 2000. Kala itu, Fathul Hayat, kakak keduaku yang setengah tahun silam meninggal karena kanker otak, memintaku menggantikannya memberi khotbah Jumat di Mangga Dua. Pada waktu bersamaan, dia diminta menjadi imam besar di Singapura.
Fathul memang seorang pendakwah. Selama dia di Singapura, semua jadwal ceramahnya diberikan padaku. Pertama kali ceramah, aku mendapat honor Rp 35 ribu. Uang dalam amplop itu kuserahkan pada Pipik. Kukatakan padanya, ini uang halal pertama yang bisa kuberikan padanya. Kami berpelukan sambil bertangisan.
Selanjutnya, kakakku memintaku untuk mulai menjadi ustaz. Inilah jalan hidup yang kemudian kupilih. Betapa indah hidup di jalan Allah. Aku mulai berceramah dan diundang ke acara seminar narkoba di berbagai tempat. Namun, perjuanganku tak semudah membalik telapak tangan. Tak semua orang mau mendengarkan ceramahku karena aku mantan pemakai narkoba. Tapi aku mencoba sabar.
Alhamdulillah, makin lama ceramahku makin bisa diterima banyak orang. Bahkan sekarang, aku banyak diundang untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun teve. Aku bersyukur bisa diterima semua kalangan. Aku pun ingin berdakwah untuk siapa saja. Aku ingin punya majelis taklim yang jemaahnya waria. Mereka, kan, juga punya hak untuk mendapatkan dakwah.
Kebahagiaan kami bertambah ketika tahun 2000 itu, lahir anak pertama kami, Adiba Kanza Az-Zahra. Dua tahun kemudian, anak kedua Mohammad Abidzan Algifari juga hadir di tengah kami. Mereka, juga istriku, adalah inspirasi dan kekuatan dakwahku. Kehidupan kami makin lengkap rasanya.
Sampai sekarang, aku masih terus berproses berusaha menjadi orang yang lebih baik. Semoga, kisahku ini bisa jadi bahan pertimbangan yang baik untuk menjalani hidup. Pesanku, cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta pilihlah teman yang baik(*)
Share:

PARTAI POLITIK

PARTAI POLITIK
PSI ADALAH PARTAI ANAK MUDA DAN PEREMPUAN

QUOTES

QUOTES

Laman

IKLAN

IKLAN
Segenap Pengurus DPD II KNPI Kota Palopo Mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda Tahun 2016